Sekarang
ini aku lagi ngikutin banget yang namanya Raditya Dika (kemana aja sih gue).
Kondisi ini semacam kutukan (Haha) soalnya dulu pas Radith masih sama Sherina
dan mereka berdua muncul di infotainment aku inget pernah bilang “Kok Sherina
mau ya sama dia, padahal orangnya aneh gitu”, ya abisnya gerak gerik Radith
waktu itu mencurigakan banget (ngeles) dan ketika mengingat itu aku jadi suka
nyengir-nyengir sendiri sekarang (malu deh eikeeee).
Nah,
kesukaan ini berawal dari film Cinta Brontosaurus. Sejak itu (entah kenapa)
bikin tertarik banget ngikutin segala sesuatu yang berkaitan dengan Radith.
Seperti kekaguman terhadap orang-orang lainnya, tentunya aku menggali (lubang
kali) informasi mendasar mengenai kehidupan Radith ini, ya karena buat ku
sebelum menetapkan seseorang menjadi panutan, dia harus punya nilai positif
yang bisa memberi motivasi kita ke arah yang positif juga. Setelah diselidiki
ternyata sosok Radith memang merupakan dijadikan sebagai panutan. Penulis dari
buku-buku bestseller, aktor, sutradara, berkecimpung dalam bidang musik dan
yang paling penting dia peka sama lingkungan yang aku lihat dari
tulisan-tulisannya (ya meskipun cara mengekspresikannya sedikit aneh, tapi
melihat tulisannya aku berpandangan kalau dia itu orang yang peduli banget
terutama sama keluarganya), dan satu lagi suka menyendiri (berhubung aku juga
sangat suka menyendiri jadi ya bolehlah).
Terus
beberapa waktu lalu aku sempet ngikutin talkshow Raditya Dika sama Salman
Aristo di kampus, dan semakin memerkuat bahwa sosok Raditya Dika itu memang
pantas di kagumi. Lanjut dengan nonton Cinta Dalam Kardus, film Dika yang
berikutnya, menurut aku sih filmya ga segereget Cinta Brontosaurus tapi ya
tetep bikin seisi bioskop ngakak dan menyadarkan berbagai hal tentang cinta
(Hihihihi). Selain apa yang udah dibilang tadi, mengenal berbagai hal mengenai
Raditya Dika, membuat keinginan untuk menjadi penulis yang selama ini sempat
tertunda itu muncul lagi, dan dorongan ini muncul sangat kuat. Aku tipe orang
yang kebanyakan mikir dan cenderung idealis, jadi terkadang malah ragu buat
melakukan apa yang pengen dilakukan, tapi dengan mengenal Dika, ketakutan itu
perlahan hilang dan membuat mulai berani melakukan apa yang pengen dilakukan
dan menulis apa yang pengen ditulis. Meskipun tadinya sempat berfikir terlambat
buat mulai belajar jadi penulis, tapi ya sekarang udah bisa yakin bahwa gak ada
kata terlambat buat belajar dan mulai detik ini aku bertekad untuk belajar
nulis dengan serius dengan harapan bisa menjadi penulis seperti apa yang di
idam-idamkan sejak dulu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar