25 Jul 2013

SOS (Sebuah Otobiografi Singkat)


Lagi rapihin data di notebook, eeeeeh gak sengaja nemu tugas otobiografi gitu. Jadi cengar cengir sendiri, ini nih tulisannya.

PELANGI KEHIDUPAN
Pengantar
     Roda kehidupan yang terus berputar, membuat setiap saat dalam kehidupan selalu tak sama. Susah, senang, tangis, tawa, semua silih berganti mengisi perjalanan hidup ini. Berdasarkan warna-warni rasa yang memenuhi kehidupan, saya memutuskan untuk memberi judul tulisan ini “Pelangi Kehidupan”, yang kemudian di bagi menjadi beberapa sub judul berdasarkan tahapan penting dalam hidup saya.
     Menceritakan tentang diri sendiri merupakan hal yang tidak mudah, subjektifitas sering muncul dari dalam diri. Namun, dalam tulisan ini, saya mencoba untuk objektif dalam menilai dan menceritakan kisah hidup yang telah saya lalui.

Deskripsi Diri
Shelly Mayang Sari itulah nama yang diberikan oleh orang tua saya. Anak tunggal dari pasangan yang bernama Soleh dan Cucum. Lahir di Garut pada tanggal 22 Desember 1992, dan dibesarkan di sebuah rumah sederhana yang terletak di Jalan Raya Selaawi yang juga berlokasi di Kabupaten Garut.
Memiliki seorang ayah yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil merupakan kebanggaan tersendiri. Ibu bekerja sebagai wiraswasta untuk membantu ayah dalam memenuhi kebutuhan hidup kami.
Ayah merupakan sosok yang sangat mengutamakan pendidikan, sedari kecil beliau mengajarkan saya membaca, menulis, menghitung. Selain itu, saya juga diajarkan untuk bisa mengekspresikan diri.

Masa kanak-kanak
Masa kanak-kanak saya begitu menyenangkan, saya dikenal sebagai anak yang cerewet, tidak bisa diam sekaligus agak manja. Sedari dulu saya sudah senang menyanyi dan menari, hampir setiap hari saya melakukan kegiatan tersebut. Itulah sedikit deskripsi tentang diri saya.
Saat menginjak usia 4 tahun lebih 6 bulan, saya mulai masuk taman kanak-kanak. Seperti anak-anak kecil pada umumnya, saya juga sangat senang bermain, berlarian kesana kemari. Di taman kanak-kanak ini saya diajari untuk membaca, menulis, menghitung, dan menghapal beberapa doa-doa.

Masa SD
Setelah 2 tahun melewati masa kecil di taman kanak-kanak, orang tua saya menyekolahkan saya di SD. Pada awal masuk SD, saya sering sekali menangis karena diganggu oleh kakak kelas yang sering menakut-nakuti saya dengan cerita-cerita aneh. Tapi disamping itu saya mendapat banyak pengalaman menarik, setiap ada pesta kenaikan kelas, saya pasti selalu tampil untuk menari ataupun menyanyi di atas panggung.
Ketika menjalani pendidikan pada kelas 4 SD, kegiatan saya semakin bertambah, berbagai perlombaan dan olimpiade saya ikuti, mulai dari praktikum MIPA, membaca cepat, siswa berprestasi, semuanya saya ikuti sekaligus, dan alhamdulillah untuk tingkat kecamatan saya memenangkan olimpiade dan berbagai perlombaan tersebut.
Pada saat kelas 5 SD saya kembali mengikuti berbagai perlombaan diantaranya perlombaan baca puisi dan cepat tangkas. Saya kembali meraih juara pertama pada perlombaan tersebut. Semenjak perlombaan baca puisi tersebut, saya beberapa kali di undang untuk membacakan puisi di setiap perlombaan baca puisi maupun disetiap kegiatan yang diadakan di daerah saya.
Begitu duduk di kelas 6 SD, seharusnya berbagai macam kegiatan olimpiade dan berbagai jenis perlombaan dihentikan untuk angkatan saya. Namun, saat itu ada panggilan mendadak dari kabupaten untuk penyaringan siswa yang harus dikirimkan sebagai wakil untuk mengikuti olimpiade MIPA tingkat nasional, dan kebetulan saat itu saya lolos sebagai wakil dari Kabupaten Garut dalam mengarungi olimpiade MIPA tersebut. Sangat disayangkan, di tingkat nasional saya gagal, banyak faktor yang menyebabkan kegagalan tersebut, diantaranya adalah karena minimnya persiapan. Hanya satu hari setelah seleksi, kami langsung dikirimkan untuk mengikuti olimpiade nasional tersebut.
Setelah lulus SD saya melanjutkan pendidikan di SMPN 1 Selaawi. Di sana saya kembali mendapatkan berbagai pengalaman baru dengan pergaulan yang semakin luas. Banyak orang yang menyenangkan dan juga yang kurang menyenangkan yang saya temui.

Masa SMP
Pada saat kelas 1 SMP saya mengikuti berbagai macam ekstrakurikuler, pramuka, olah raga, dan seni semuanya saya ikuti, menjadi pengurus OSIS pun saya jalani, bahkan saya sempat menjadi ketua dari beberapa kegiatan ekstrakulikuler tersebut, dan disaat itu pula saya kembali mengikuti berbagai perlombaan, diantaranya perlombaan menyanyi. Dalam perlombaan tersebut saya terpilih menjadi wakil dari kecamatan Selaawi. Tapi, kegagalan kembali saya temui. Namun, hal tersebut tidak membuat saya menyerah, saya tetap bertekad untuk mengikuti berbagai perlombaan lainnya.                                                                                                                                                                                                                     
Satu tahun kemudian, saya kembali dipercaya untuk mewakili sekolah saya untuk mengikuti perlombaan cepat tangkas dan siswa berprestasi. Pada perlombaan cepat tangkas, tim saya hanya berhasil menembus tingkat rayon. Lalu saya melanjutkan perjuangan saya dalam perlombaan siswa berprestasi, disana berbagai macam tes diujikan, dari mulai psikotes, ujian tulis, debat, unjkuk bakat, praktikum, olah raga, serta berbagai jenis tes lainnya. Dalam olimpiade siswa berprestasi tersebut saya berhasil meraih juara 2 di tingkat kabupaten, sebenarnya tersisa sedikit penyesalan, karena selisih nilai yang saya peroleh sangat tipis dengan juara satu, namun saya menyadari itu mungkin karena sedikit kesalahan teknis yang terjadi pada saat praktikum.

Ketika Duka Melanda Jiwa
Pada saat liburan akhir semester, ketika saya duduk di kelas 2 SMP,  hal besar melanda diri saya. Tiba-tiba kehidupan saya berubah. Tubuh ini lemah tak berdaya, mungkin terlalu lelah karena begitu banyak melakukan berbagai aktivitas. Tadinya semua berfikir kalau saya hanya terkena sakit biasa, tapi ternyata penyakit tersebut cukup serius. Pada saat  berusia 14 tahun, saya harus tersiksa karena penyakit aneh yang menggerogoti tubuh ini. Awalnya orang tua saya tidak memberi tahu, tentang penyakit yang sedang bersemayam dalam raga saya. Tapi setelah kondisi mulai membaik, akhirnya mereka mau memberitahukannya. Meskipun begitu, mereka tidak menjelaskan bahwa penyakit itu adalah penyakit yang berat dan berkemungkinan besar akan merenggut nyawa saya. Mereka mengatakan bahwa penyakit itu hanyalah penyakit yang biasa. Mungkin mereka khawatir jika saya tahu mengenai kebenaran penyakit tersebut maka keadaan saya akan semakin memburuk. Saya penasaran dengan penyakit ini, lalu secara diam-diam mencari informasi tentang penyakit Lupus ini. Akhirnya saya menemukan apa yang di cari, rasa terkejut sempat muncul ketika mengetahui bahwa penyakit ini cukup serius dan mungkin hidup ini tak akan lama lagi. Perasaan putus asa sempat melanda, dengan kondisi fisik yang berubah drastis siapapun pasti merasa tertekan, ditambah dengan kegiatan yang tiba-tiba dibatasi, namun setelah beberapa hari merenung, saya sadar bahwa saya harus bangkit dan tidak boleh menyerah dengan keadaan, terlebih karena saya anak tunggal, jadi siapa lagi yang akan menjaga orang tua saya kelak. Saya sadar dan mencoba bangkit dari keterpurukkan yang amat dalam.
Perlahan tapi pasti saya mulai bangkit, dan semangat hidup itu mulai kembali. Saya terus mencoba mencari informasi tentang penyakit ini, tapi ternyata semakin tahu banyak informasi tentang penyakit ini malah membuat semakin kuat dan semakin ingin melawan penyakit yang hampir membuat kehilangan semua yang saya impikan.
     Meski saya mencoba untuk kuat, saya juga tidak bisa membohongi diri sendiri, bahwa hari-hari begitu terasa berat, karena saya yang dulunya aktif dalam berbagai kegiatan, tiba-tiba harus menghentikan semua kegiatan tersebut. Selain itu jam belajar pun jadi dibatasi, saya dilarang belajar kecuali hanya jika ada tugas dari guru. Padahal ketika itu saya sempat tidak masuk sekolah selama hampir 4 bulan, banyak materi yang harus di kejar, sedangkan jangankan untuk mengejar pelajaran yang tertinggal, untuk sekedar mengerjakan tugas saja sudah dibatasi. Beruntung saya bisa mengejar materi dengan baik. Meskipun prestasi saya menjadi menurun.
Setelah lama berjuang mempertahankan hidup, akhirnya setelah 3 tahun melakukan berbagai terapi. Dokter mengatakan kalau saya tidak perlu memakan obat-obatan lagi, saya hanya perlu menjaga kondosi saja. Walaupun penyakit itu masih mungkin kembali menggerogoti tubuh, tapi saya merasa sangat gembira, dan disitu semua beban terasa hilang, Semangat untuk menjalani hidup dan merangkai kembali mimpi dan asa yang sempat tertunda kembali menggelora. Dunia yang tadinya gelap, seolah menjadi terang kembali. Saya sudah tidak harus bertemu lagi dengan puluhan butir obat yang tadinya harus saya konsumsi setiap hari, untuk mempertahankan hidup ini.Walau semuanya belum bisa sebaik dulu lagi, tapi saya yakin dengan usaha dan kerja keras, saya pasti bisa menjadikan hidup  jauh lebih baik dan bermakna.
  
Kembali Berada Pada Titik Nadir
Ternyata cobaan belum berakhir, saya kembali menemui titik berat dari kehidupan yang saya lalui. Masa-masa SMA terasa begitu menyiksa, disaat semua remaja hidup dalam dunianya, saya begitu merasa terasing dengan kondisi yang saya alami. Hidup dengan kondisi yang tidak normal memang begitu sulit, hal tersebut terasa sangat menyiksa. Sempat merasa marah, kesal, benci, semuanya bergejolak dalam dada. Untuk beberapa saat, kondisi saya sempat tidak stabil, namun perlahan saya mulai bisa mengendalikan diri saya.
Pada saat kelas 2 SMA, saya kembali berada pada titik terlemah, dimana raga ini harus kembali tumbang, dan merasakan sakit yang luar biasa. Beberapa jenis jarum kembali keluar masuk pori-pori saya, jarum infus pun setia menempel di badan saya selama 1 minggu. Beberapa tes kembali saya jalani, dengan  beberapa dokter spesialis. Perasaan takut menggelayut dalam dada. Kekhawatiran selalu melingkupi pikiran disela menunggu hasil dari berbagai tes yang dijalani. Namun, sedikit perasaan lega muncul ketika mendapati hasil tes tersebut tidak seburuk yang di bayangkan. Organ-organ penting dalam tubuh saya masih bisa berfungsi cukup baik. Sebelumnya, ketakutan itu memburu saya karena kebanyakan dari penderita penyakit lupus mengalami komplikasi dan kerusakan pada berbagai organ inti. Syukurlah, apa yang saya miliki masih bisa berfungsi.
Setelah menjalani opname dan melewati masa kritis untuk kesekian kalinya, saya semakin was-was dalam beraktifitas. Orang tua saya pun semakin membatasi kegiatan saya. Tapi ternyata setelah berkonsultasi dengan dokter, hal tersebut sangatlah tidak baik. Seharusnya saya diberi kebebasan untuk beraktifitas seperti remaja pada umumnya. Karena tekanan dan pembatasan yang dilakukan, justru akan makin memperburuk kondisi saya. Setelah mengetahui hal itu, orang tua saya mulai memberi sedikit kelonggaran untuk saya.

Perjuangan Mewujudkan Mimpi
Tahun 2011 datang, dimana saya dan teman-teman saya yang sudah memasuki semester 2 pada kelas 3 SMA, harus mempersiapkan diri untuk menjalani Ujian Nasional, selain itu kami pun harus segera menentukan kemana kami akan melanjutkan sekolah kami. Saya sangat ingin masuk di Universitas Padjadjaran, itulah impian saya sejak dulu, bisa menjadi mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran jurusan kehumasan. Tapi, masalah kembali datang, orang tua saya tidak mengizinkan saya untuk mendaftar ke Universitas Padjadjaran, alasannya tetap, karena penyakit saya. Penyakit yang saya derita kembali menjadi alasan kuat orang tua saya untuk tidak mengizinkan saya tinggal jauh dari mereka. Sempat ada diskusi hingga perdebatan panjang hingga akhirnya orang tua saya mengizinkan saya memilih Universitas Padjadjaran sebagai tempat saya untuk meraih cita-cita. Semua jalur masuk Unpad saya tempuh, dari mulai SNMPTN Undangan, SNMPTN tulisan dan SMUP, namun SMUP lah yang berhasil mengantarkan saya di gerbang masa depan yang selama ini saya impikan.

Semangat Yang Kembali Menggelora
Setelah melalui berbagai cobaan dan ujian, akhirnya semangat saya bisa hidup kembali. Semangat untuk mewujudkan semua cita, kembali menggelora dalam dada. Karena sekarang saya yakin bahwa saya berada di tempat dan lingkungan yang sangat tepat untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya. Seorang Public Relations sukses yang bisa melegenda dan bisa memberikan kontribusi terbaik bagi perkembangan dunia kehumasan, itu salah satu mimpi besar saya.
 Meskipun saya sadar bahwa rintangan telah siap untuk kembali menghadang, serta hari-hari yang dilalui akan cukup berat dan melelahkan tapi saya bertekad bahwa semangat saya tak pernah padam. Saya berjanji untuk selalu berusaha untuk menjadi sosok yang lebih baik dan mampu mewujudkan semua mimpi dan cita yang selama ini telah terdeskripsi dalam angan ini.
          

 *Tulisan tersebut dibuat untuk memenuhi tugas kuliah Bahasa Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar