Jumat, 21 Juni 2013, hari ke-8
liburan kuliah dan hambatan itu masih ada, aku tetep masih belum maksimal buat
usaha mewujudkan tujuan-tujuan yang udah ditetapkan sebelumnya. Ya, hambatannya
selalu sama, malas..... Penyakit yang sungguh sulit untuk dihilangkan. Meskipun
begitu, tentunya usaha buat bunuh penyakit itu atau setidaknya meminimalisir
gejala dan penyebarannya masih tetap diusahakan.
Pagi ini cukup cerah, sang surya
memancarkan cahaya dengan gagahnya, setelah sarapan pagi yang sedikit
terlambat. Aku melihat kejendela depan rumah, entah apa yang membuat terdorong
untuk menatap kesana. Tapi ketika itu, ada sepasang manusia (yang nampaknya
sedang memadu asmara) duduk di kursi depan halaman rumah, berhubung rumah ku
dipinggir jalan jadi kursi yang disediakan didepan memang sering digunakan
orang-orang sekedar untuk minum atau bersantai, seperti kedua orang ini. Mereka
sedang asyik mengobrol sambil meneguk minumannya, entah apa yang mereka
bicarakan aku ga bisa nguping, mungkin rencana pernikahan (ya kali -_-),
mungkin membahas kepadatan lalu lintas saat itu (sok tahu), atau mungkin
membahas tujuan mereka selanjutnya (soalnya si cowo bawa motor gitu), entah lah
ya apa yang mereka perbincangkan. Tapi yang pasti mereka terlihat begitu
menikmati kebersamaan, berbincang santai dengan tatapan penuh cinta (halah)
sambil meneguk setiap tetes dari minuman yang digengamnya. Melihat itu, pikiran
ini seketika mengarahkan aku pada sebuah kata sakti (kalau aku bilang) yang
selalu membumbui sebuah hubungan. Romantis ya romantis.
Sekedar informasi, aku tipe orang
yang idealis dan sangat senang berkhayal. Dengan khayalan yang dimiliki aku
sempat membangun deskripsi sendiri perihal romantis. Berkhayal tentang dilamar
di tempat favorit (tepi pantai) dipayungi langit malam diterangi kerlap
gemintang yang dilengkapi neon berbentuk hati ketika pasangan aku menyanyikan
sebuah lagu indah yang diciptakan khusus buat moment itu kemudian menyodorkan
sebuah cincin dengan desain yang di impi-impikan (jadi curhat), atau makan
malam ditempat yang ekslusif, sampai pernikahan yang mewah nan megah, khayalan
lainnya terbangun bersama orang yang kita cintai kemudian bersama menuju balkon
kamar untuk melihat pemandangan yang menyejukkan hati dan pikiran. Ya itu sih
tetep jadi keinginan-keinginan yang aku biarkan tersimpan dalam angan.
Tapi, melihat kejadian pagi ini
seolah membangun pemahaman lain dipikiran aku menganai apa itu romantis yang
sebenarnya. Seperti deskripsi romantis yang sebelumnya paparkan, kalianpun
tentunya mempunyai gambaran kalian tersendiri mengenai apa itu romantis, baik
itu berdasarkan apa yang pernah kalian alami ataupun perihal hal yang menjadi
harapan kalian akan terjadi dimasa mendatang. Mungkin ada yang mengenai
pemberian bunga dari pacar merupakan hal romantis yang pernah kalian alami,
atau ada yang mendambakan makan malam di atap gedung menatap keindahan kota,
mengukir nama di pasir, makan mie dipinggir jalan, mengobrol memerbincangkan
masa depan bahkan hal-hal remeh berdua atau mungkin hanya berdiam diri berdua
tanpa melakukan maupun mendiskusikan hal apapun, serta masih banyak hal lain
tentunya yang terlintas dipikiran masing-masing dari kalian berkaitan dengan
sebuah hal yang disebut romantis.
Ok, beranjak kepada pemahaman
baru perihal romantis tadi, melihat berbagai cerita dari beberapa orang
menganai gambaran romantis yang pernah mereka alami maupun inginkan, ada sebuah
unsur yang aku garis bawahi dan memiliki kesamaan perihal gambaran akan
romantis itu sendiri. KEBERSAMAAN! Dari semua gambaran akan kejadian-kejadain
romantis yang ada dibenak banyak orang, mungkin deskripsinya berbeda tapi tetap
saja disana akan ada unsur yang tidak hilang yaitu kebersamaan. Coba bayangkan
saja apabila aku yang memiliki deskripsi romantis “makan ditempat yang
ekslusif” kemudian tidak ada unsur kebersamaan disana (aku makan ditempat yang
ekslusif tapi sendirian), atau yang mendeskripsikan romantis dengan makan mie
dipinggir jalan (sendirian), kemudian apakah romantisme itu bisa terbangun?
Tentu tidak, bukannya romantis itu malah jadi semacam jomblo miris (hahaha).
Pemikiran itu, membangun sebuah
kesadaran dalam diri aku bahwa ternyata romantis bukan perihal kemewahan, bukan
perihal ekslusifitas, bukan perihal hal-hal yang ribet melainkan sangat
sederhana, romantis hanya disaat kita melewati waktu bersama dengan pasangan
kita, kemudian merasa nyaman ketika melaluinya untuk kemudian selalu membuat
tersenyum setiap kita mengenangnya. Sesederhana itu.... Jadi, dengan landasan
pemikiran bahwa romantis itu hanya
semudah aku dan kamu melalui waktu dengan kebersamaan, membuat moment
romantis itu tidak memerlukan biaya yang menguras tenaga, pikiran dan isi
dompet tentunya. Kita bisa menciptakan moment romantis kita bersama pasangan,
kapan dan dimanapun.
Emmmm.... Itu romantis menurut aku,
menurut kalian gimana?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar