Aku senang sekali bersenda gurau dengannya, kutemui dia dipagi, kutemui dia diterik, kutemui lagi saat ia akan pamit. Pertemuan dengannya merupakan sebuah keharusan yang mengantarkan pada kebahagiaan yang tak bisa digambarkan. Entahlah, tapi yang kurasa, segala sesuatu yang ku lakukan bersamanya terasa lebih menyenangkan. Ya begitulah normalnya orang jatuh cinta, apapun serasa lebih indah asal dilakukan bersama dia yang dicinta. Tak pernah bosan ku berjumpa dengannya, seberapa sering pun itu. Berat ku rasa setiap akan menutup pertemuan kami setiap harinya.
Hingga suatu ketika ada yang salah, sangat salah, ada yang berubah dari diriku, hingga semua orang mecegahku untuk menemuinya lagi, bahkan aku harus menggunakan berlapis pelindung dan harus bisa menghindar selihai mungkin saat terpaksa harus melewati tempat dimana dia berada, aku menjadi berbeda, menyamar sedemikian rupa dan menghindari tatap muka. Mereka bilang itu demi kebaikanku, aku akan lebih baik tanpanya.
Lama sekali kami tak lagi berjumpa, hingga rindu serasa membuncah didada. "Jikalau harus berpisah, bukankah itu harus dilakukan dengan pantas? Bukan bersembunyi, menghindar atau berpura-pura tak pernah mengenal", batinku berbicara. Akhirnya aku mengumpulkan nyali untuk menemuinya, "sekali ini aja, untuk terakhir kalinya", ku ucap dalam gelisah yang melanda.
Rembulan telah kembali ke peristirahatannya, itu berarti saatnya tiba, dimana ku bisa berjumpa lagi dengan dia yang kucinta, meski harus ku berpura, mengendap supaya tak ada orang yang kan halangi pertemuanku dengannya. Dengan ragu ku melangkah, kemudian memberanikan diri langsung menatapnya, memberikan pertanda, untuknya beranjak bersama, menuju tempat dimana kami sering berbincang, bersenda gurau, berdua.
Kesunyian menjadi penengah pertemuan kami berdua, tak tahu ku harus berkata apa, semua kalimat dalam pikiranku seakan hanya berputar-putar, menari secara acak tanpa urutan yang mantap. Begitupun dengan dirinya, seakan hanya bisa menatap tanpa ada sepatah kata yang mampu terucap. Seolah hanya bisa menunggu ku siap membuka sebuah kalimat. Meski sesungguhnya kesunyian bukanlah hal yang baru dalam pertemuan kami berdua, karena seringkali ku temui dia hanya untuk mengalihkan pikiranku dari duka, kemudia pulang saat rasa duka itu reda, tanpa perlu kami berbicara, meski hanya sepatah kata. Tapi kali ini berbeda, tak seperti biasanya, tentu persoalannya tak bisa hanya tersampaikan melalui kesunyian saja, hingga akhirnya ku menguatkan diri tuk ucapkan kata demi kata, meski harus ku sampaikan dengan terbata.
Namun sebelum mulutku mulai menganga, dia mendahuluiku tuk berbicara, seakan semenjak tadi dia hanya menunggu kesiapanku tuk membuka, ia berkata "Telah ku dengar berita, sang angin yang membawa, tak perlu kau sampaikan kata, ku tahu kau begitu terluka, bukan berarti aku tidak, ku pun merasa yang sama. Tetapi jangan khawatir cinta, meski kita tak bisa bertatap muka, tapi kan selalu ku temanimu dalam suka dan duka. Setaip rindu itu mendatangimu, temui aku disela jendela, lihat aku, tatap aku sebelum senja, darimanapun kamu berada. Ku kan selalu berada disana, setia hingga waktu tiba, saat kita bisa kembali bercanda, tanpa harus meluka. Cintai aku selama kamu bisa, ingatlah aku selama itu tidak membuatmu tersiksa. Jangan khawatir, kau kan baik-baik saja, begitupun aku juga. Bersabarlah cinta, kita hanya perlu menunggu waktu, waktu yang tepat tuk kita kembali bersama". Aku pun tersenyum dan beranjak dari sana, tuk kembali ke peraduanku, dengan merapal doa agar pertemuan ku dengannya tak mengusik sang serigala yang sedang terlelap dalam tidurnya.
Dari sela jendela, ku pejamkan mata dan ku peluk erat kata yang terucap darinya sembari berharap bahwa suatu waktu itu kan menjadi nyata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar