Kepadamu
yang sempat singgah dihatiku,
Bemula
dari hal yang tak pernah aku kira, dari maksud ‘tuk bertukar cerita yang entah
mengapa berubah menjadi suatu kata bernama cinta. Ketidaksengajaan t’lah
mengantarkan kita pada kebersamaan, yang sempat ku pikir sebuah kesalahan,
namun akhirnya ku syukuri atas rasa yang terukirkan, rasa yang sempat lama tak
terpercikan. Sebentar ku kau luluhkan, bahkan hingga buatku lepaskan kesempatan
kedua yang lama dinantikan, ku pertaruhkan demi asa baru tuk jajaki rasa
denganmu.
Semua
terasa serba singkat, dari proses kita dekat hingga disaat hati kita seolah tak
lagi bersahabat. Kali ini ingin ku ungkap, sejujurnya hatiku tak utuh
dimilikimu. Namun perlu untuk kau tahu ketika kita bersama, ya sepanjang
kebersamaan kita, aku selalu berusaha 'tuk percaya bahwa suatu ketika segenap
cintaku dapat menjadi milikmu, meski sungguh aku masih tetap meragu bahwa kau juga
mencoba tuk begitu, tapi itu bukan alasan ku tuk berhenti mencoba, hingga suatu
hari kan ku yakin benar bahwa kau sungguh tak pernah melakukan hal yang sama.
Untukmu
ku buka hati yang t’lah cukup lama ku tutup adanya, sebelumnya ku kira takkan
bisa terbuka bahkan hingga 2-3 tahun kan tiba. Walaupun ternyata itu seakan
sia-sia tapi aku tak pernah menyesalinya. Aku menikmati setiap proses yang ada,
sebagaimana pun kurangnya.
Tahukah
kamu bahwa pernah ku bayang, pernah terlintas dalam angan bahwa kita kan miliki
kebersamaan yang panjang, tapi kembalilah itu hanya sebuah khayal yang tercipta
dan hanya ada ketika kita bersama, kemudian bayang itu pun sirna seketika ku
tersadar bahwa tak lagi ada cinta yang
menaungi kita.
Sempat
aku berpikir, meresapi apa yang terjadi, mencari hampa yang memisahkan kita.
Dari situ ku lihat sebuah nyata, kita sama, bahkan terlalu sama, disamping
menghadapi sebuah problema yang hanya aku dan kamu tahu, ada sisi lain
persamaan yang justru mungkin membuat cinta kita menjadi berbeda. Bahwa
kau masih terperangkap dalam cinta lamamu yang memang selalu coba ‘tuk kau
ingkari, tapi bisa ku rasa bahwa sebagian hatimu bahkan pikirmu masih berada
disana. Pula diriku, nyatanya sebagian hatiku masih dimiliki oleh hati yang
lain, sehingga tak bisa utuh ku berikan untuk kau miliki. Lebih lagi dengan
luka yang kita punya, luka belum tersembuhkan dengan sempurna yang jadikan
kesiapan tak matang untuk kembali membagi percaya.
Namun
sungguhlah bukan itu yang membuat raguku memuncak hingga bahkan pada akhirnya
buatku beranjak. Ketika seolah 24 jam tak cukup bahkan hanya untuk menyapaku,
ketika aku seolah tak lagi bisa menjadi tempat berkeluh kesah mu, itu yang kecewakanku, robohkan yakinku.
Bagiku tak haruslah kau selalu berada disampingku, tapi bahkan seakan tak lagi
ada inginmu ‘tuk sekedar luangkan waktu untuk pedulikan aku yang khawatirkanmu,
menanti kabarmu, ketika menjaga komunikasi yang menjadi dasar dalam
mempertahankan sebuah cinta menjadi terlalu sulit bagimu, maka tak perlu lagi
ada hal lain yang dijaga karena semua hanya kan jadi percuma dan kedepan hanya
kan ada sakit yang terasa.
Kecewa
sempat kembali ku rasa, ketika ku mendengar alasan kau berubah, bahwa kau hanya
menjaga air mataku menetes karena kehilanganmu nanti, yang entah hanya
sebuah alasan basi untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi atau ungkapan
tulus dari hati yang hanya sayangnya tak kau eksekusi dengan lebih hati-hati,
aku kecewa karena kau berkata ingin menjaga air mataku menetes nanti karena hal
yang belum pasti, tapi kau lupa untuk menjaga tetesan air mataku kemarin
atau bahkan saat ini, waktu yang nyata kita lalui. Namun kembali, apapun yang sebenarnya ada dihatimu dan
apapun yang tersimpan dihatiku, aku berterima kasih karena kau sempat menyapaku dalam cinta.
Terlepas
dari semua permasalahan yang ada, ingin ku sampaikan bahwa selama ku bersamamu
dalam waktu singkat itu, meski selalu terselip ragu, namun tawa yang kau cipta
beriku bahagia yang kan selalu tersimpan baik dalam ingat dan rasa dan perlu
kau tahu melepasmu bukan perkara mudah bagiku, meski sejak awal kita sama-sama
menyadari bahwa cepat atau lambat 'kan ada salah satu yang lebih dulu pergi.
Aku
teringat, ketika ku masih ada dalam pelukmu, sempat kau tanya perihal sesalku
mengenalmu, namun jawabku tidak dan hingga kini kan tetap sama, karena aku
percaya bahwa Tuhan hadirkan seseorang dengan alasan, aku percaya bahwa cinta tak pernah salah walaupun akhirnya tetap terpisah.
Dari
aku yang sedang merindu kita.