Sebenernya
udah sejak beberapa bulan lalu lalu nonton film ini, tapi baru ada niat buat
nulis saat ini, (karena aku pelupa parah) ya jadi yang ditulis singetnya aja.
Hari
itu kebetulan lagi ga ada kegiatan (padahal tiap hari juga gitu), berhubung di
twitter lagi banyak banget yang ngomongin soal film Cinta Brontosaurus nya
Raditya Dika, akhirnya aku memutuskan untuk menonton film ini (seperti biasanya
nonton “SENDIRI”), nonton sendirian lebih indah soalnya ga akan ada yang ngajak
aku ngobrol dan ngasih komentar sebelum film berakhir atau nebak-nebak adegan
selanjutnya jadi aku bisa lebih fokus ngikutin alur cerita juga bisa narik
makna dari film tersebut (keren kan alesannya, padahal sebenernya nonton
sendiri gara-gara jomblo).
Aku
ga akan bahas mengenai teknis produksi atau apapun yang berkaitan dengan itu
karena sama sekali gak ngerti juga, disini cuma pengen cerita soal dinamika rasa yang
dialami ketika menyaksikan film tersebut. Awalnya ngerasa suka nonton film ini karena
disini aku bisa ketawa (padahal aku tipe orang yang susah ketawa), sampai
tengah-tengah cerita, masih menikmati ketawa-ketawa tapi belum terbawa ke dalam
cerita, sampai pertemuan Dika sama Eriska Reinisa (lupa nama tokohnya siapa maklum
penghafal nama yang buruk) mulai terbawa. Beberapa hal yang di dapat dari cerita
ini bahwa kita gak akan pernah tahu kapan cinta menghampiri diri kita dan
dengan siapa kita jatuh cinta, kita gak akan pernah tahu apakah kita cocok
dengan seseorang sedangkan kita belum menjajaki satu sama lain, gimana kita
tahu bahwa kita telah gagal sebelum mencobanya (itu tadinya salah satu
ketakutan terbesar aku, takut akan kegagalan). Dalam suatu hubungan pasti ada
hambatan, entah itu dari teman, keluarga ataupun yang lainnya tapi yang
terpenting keyakinan dan kebersamaan untuk mengatasi hambatan tersebut, kalau
keduanya sudah yakin satu sama lain pasti bisa teratasi. Terkadang kita buta
akan ketulusan cinta seseorang dan mengabaikan pengorbanan-pengorbanan yang
telah ia lakukan, kemudian saat orang lain menyakiti kita barulah kita sadar
siapa yang benar-benar tulus menerima kita apa adanya. Bahwa nyaman atau tidak
nyaman sebenarnya kita yang menciptakan. Yang terpenting dalam sebuah hubungan
adalah diri sendiri memahami kekurangan dan berusaha memerbaiki dan mengetahui
kekurangan pasangan untuk dipahami kemudian diterima dengan ketulusan hati. Bahwa sosok sempurna
yang kita cari sebenaranya orang yang bisa mengerti kita.
Ya itu tadi sedikit hikmah yang bisa aku tangkep
dari film Cinta Brontosaurus ini. Buat yang sempet nonton film ini juga, ayo
dibagi ceritanya....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar