25 Jul 2013

Cinta Brontosaurus dan Dinamika Rasa Tentang Cinta

Sebenernya udah sejak beberapa bulan lalu lalu nonton film ini, tapi baru ada niat buat nulis saat ini, (karena aku pelupa parah) ya jadi yang ditulis singetnya aja.

Hari itu kebetulan lagi ga ada kegiatan (padahal tiap hari juga gitu), berhubung di twitter lagi banyak banget yang ngomongin soal film Cinta Brontosaurus nya Raditya Dika, akhirnya aku memutuskan untuk menonton film ini (seperti biasanya nonton “SENDIRI”), nonton sendirian lebih indah soalnya ga akan ada yang ngajak aku ngobrol dan ngasih komentar sebelum film berakhir atau nebak-nebak adegan selanjutnya jadi aku bisa lebih fokus ngikutin alur cerita juga bisa narik makna dari film tersebut (keren kan alesannya, padahal sebenernya nonton sendiri gara-gara jomblo).

Aku ga akan bahas mengenai teknis produksi atau apapun yang berkaitan dengan itu karena sama sekali gak ngerti juga, disini cuma pengen cerita soal dinamika rasa yang dialami ketika menyaksikan film tersebut. Awalnya ngerasa suka nonton film ini karena disini aku bisa ketawa (padahal aku tipe orang yang susah ketawa), sampai tengah-tengah cerita, masih menikmati ketawa-ketawa tapi belum terbawa ke dalam cerita, sampai pertemuan Dika sama Eriska Reinisa (lupa nama tokohnya siapa maklum penghafal nama yang buruk) mulai terbawa. Beberapa hal yang di dapat dari cerita ini bahwa kita gak akan pernah tahu kapan cinta menghampiri diri kita dan dengan siapa kita jatuh cinta, kita gak akan pernah tahu apakah kita cocok dengan seseorang sedangkan kita belum menjajaki satu sama lain, gimana kita tahu bahwa kita telah gagal sebelum mencobanya (itu tadinya salah satu ketakutan terbesar aku, takut akan kegagalan). Dalam suatu hubungan pasti ada hambatan, entah itu dari teman, keluarga ataupun yang lainnya tapi yang terpenting keyakinan dan kebersamaan untuk mengatasi hambatan tersebut, kalau keduanya sudah yakin satu sama lain pasti bisa teratasi. Terkadang kita buta akan ketulusan cinta seseorang dan mengabaikan pengorbanan-pengorbanan yang telah ia lakukan, kemudian saat orang lain menyakiti kita barulah kita sadar siapa yang benar-benar tulus menerima kita apa adanya. Bahwa nyaman atau tidak nyaman sebenarnya kita yang menciptakan. Yang terpenting dalam sebuah hubungan adalah diri sendiri memahami kekurangan dan berusaha memerbaiki dan mengetahui kekurangan pasangan untuk dipahami kemudian diterima dengan ketulusan hati. Bahwa sosok sempurna yang kita cari sebenaranya orang yang bisa mengerti kita.

Ya itu tadi sedikit hikmah yang bisa aku tangkep dari film Cinta Brontosaurus ini. Buat yang sempet nonton film ini juga, ayo dibagi ceritanya....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar