“Hey kamu, ya kamu yang
berbaju biru, tahukan kamu kalau aku jatuh cinta padamu?”
Beberapa kali rasanya
ingin meneriakkan itu, kepadamu ya kamu yang entah sedang berada dimana, entah
memikirkan siapa, kamu sang pemilik hati yang mungkin saja sudah dimiliki orang
lain.
Kamu ada dinyataku dan
setelah sekian tahun akhirnya kita bertemu.
Aku tak bisa mengingat
dengan baik, entah itu sore atau malam, tapi tak peduli kapanpun. Saat itu menjadi
waktu yang membahagiakan untukku. Tak hanya berdua kita disana, begitu ramai,
banyak orang berlalu lalang, tapi seakan kita memiliki dunia sendiri, terhanyut
dalam perasaan satu sama lain, tanpa peduli dengan yang orang lakukan, yang
orang lain pikirkan. Saat itu kita benar-benar terbuai, mungkin itu yang
dimaksud dengan serasa dunia milik berdua.
Kamu menyampaikan hal
yang tak ku duga, hal yang beberapa kali bahkan sempat menjadi kekhawatiranku
seakan terjawab disitu. Saat dia membuatku meneteskan air mata, ya dia orang
yang aku dan kamu kenal. Sahabatmu, mantan kekasihku. Disana kau ada, menatapku
dengan penuh cinta. Mengatakan semua akan baik-baik saja. Menyandarkan kepalaku
dibahumu, membelai lembut rambutku, meyakinkan kau selalu ada disisiku,
menghapus air mata kesedihanku.
Beberapa menit ku
terbuai, hingga pada akhirnya aku menyampaikan bahwa sempat aku jatuh hati
padamu dan sekarang pun mungkin masih begitu. Rasa yang telah aku sadari sejak
bertahun lalu, namun terkalahkan oleh kebodohanku, ketakutanku, untuk
kehilanganmu, roboh oleh prasangkaku yang terlalu takut bahwa nanti kau kan
tinggalkanku karena kurangku. Pada akhirnya mungkin hal itu yang membuatku
pergi. Kebodohanku yang memberi penolakan atas sesuatu yang sesungguhnya begtu
ingin aku dapatkan, sesuatu yang ingin aku lalui bersamamu, dan sekarang yang
hanya bisa aku harapkan bahwa kesempatan itu akan kembali terulang, kesempatan indah
yang telah aku siakan.
Andai kan bisa ku ingin
tahu sejauh mana nyata dari pengorbanan yang pernah kau tawarkan, ya jika kini
itu bisa terulang maka tanpa ragu aku akan mengatakan aku bersedia, aku
bersedia menguji pengorbananmu untukku, aku bersedia kita mencoba hal yang baru
bersama. Tapi mungkin kau sudah terlanjur muak dengan angkuhku dan kemudian itu
jauhkanmu.
Hey pria berbaju biru, ketika
kau mengatakan bahwa kau tahu sebenar-benarnya rasaku tanpa harus ku ungkap,
tanpa perlu ku ucap, itu begitu indah bagiku, mengubah sakit karena luka yang
sahabatmu torehkan menjadi tetesan air mata bahagia yang terasa melegakan.
Ketika kau mengatakan memiliki rasa yang sama disitu pulah tangisku kembali
menjadi, tangis penyesalan kenapa kita harus menunggu begitu lama untuk
mengungkapkan rasa, tapi sekaligus tangis kebahagiaan karena pada akhirnya
semua yang selama ini terasa begitu mengganjal dalam hati akhirnya bisa terluapkan.
Ketika aku menyampaikan semua ketakutanku, ketakutan yang selama ini terpendam
dihati, dengan ketulusan kau berkata “Sebegitu bodohkah dirimu hingga berpikir
bahwa cintaku akan terbuang hanya karena kurangmu” percayalah aku tak seperti
itu, aku mencintaimu sepenuhnya dirimu”. Dan tahukan kamu? Itu kali pertama aku
merasa bahagia disebut bodoh. Saat itu pula hatiku berkata, ini cintaku cinta
sejatiku. Entah kenapa aku begitu yakin, tapi aku rasa mungkin karena aku bisa
membaca ketulusan dari setiap gerak tubuh dan ucapmu. Berbeda dari kata yang sempat
terlontar dari mulut beberapa orang, yang katanya akan selalu ada untukku dan
tidak akan pernah memermasalahkan kurangku. Dalam katamu terdapat ketulusan
yang aku rasakan benar-benar berasal dari hatimu dan sampai pula pada hatiku.
Senyuman manis
tersungging dari bibirku, mengingat ucapmu, mengingat tatapmu. Semua nampak
begitu nyata, bahkan hangat pelukmu masih sangat terasa. Perlahan aku membuka
mata dan menjejak realita. Pagi yang indah telah menjemputku dengan segala
dinamika hidup yang siap disajikannya. Aku bahagia, sangat bahagia, setelah
pertemuan kita yang sekian tahun tertunda akhirnya semua terbayar. Meski
akhirnya kita hanya berbagi cinta dalam bunga tidurku saja, tapi rasanya
bahagia itu tetap sempurna. Menjawab tanyaku, menepis raguku, bahwa senyata-nyatanya
aku benar t’lah jatuh padamu, bukan karena obsesi memiliki yang seperti dialami
banyak orang kini, melainkan benar ketulusan dari hati, berdasar cinta yang
tumbuh dengan alami, yang entah muncul dari mana tetapi memang nyata adanya.
Hey kamu pria berbaju
biruku, sejak itu sejak kita terlibat dalam perbincangan di sebuah akun hingga
saat ini kita belum sempat untuk saling menatap mata satu sama lain secara langsung,
namun percayalah, rasaku padamu benar ada dan tahukah kamu, untuk beberapa kali
aku menyesali salahku, salahku karena sia kan kesempatan untuk bersamamu,
salahku karena cinta yang terhalang oleh ego ‘tuk tak menghubungi lebih dulu.
Dipagi ini, tepat setelah
kamu menyapaku. Aku berjanji untuk tak lagi ragu dan selalu jujur tentang
perasaanku. Mungkin kesempataku untuk denganmu tlah hilang sejak ku siakan saat
itu. Tapi bagaimanapun, apapun yang akan terjadi antara kita, maupun yang
takkan pernah terjadi antara kita. Aku bersyukur karena pernah tahu bahwa ada
makhluk seindahmu yang sempat singgah di hidupku dan menjadi bagian dari mimpi
sempurnaku.
Teruntuk pria berbaju
biru, yang benar ada meski kita belum sempat saling sapa dalam nyata (November
2011-Januari 2012).
Catatan disuatu pagi setelah mimpi indah tentangmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar